Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts

Monday, March 05, 2018

Menuju #AjArBersama Bagian 1

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 


Kemarin saya baru pulang dari rumah orang tua saya di Klaten, sekalian ambil foto nikahan saya yang dilaksanakan sebulan lalu. Akhirnya setelah satu bulan lebih nikah, fotonya baru jadi. Hehehe.
Nah karena lihat-lihat foto itu akhirnya kepikiran untuk buat postingan ini. Saya cuma mau berbagi beberapa hal, serba serbi yang berkaitan dengan pernikahan saya kemarin. Barangkali besok ada yang berencana menikah dan bingung masalah vendor kan, nah mudah-mudahan tulisan ini sedikit membantu.
Postingan kali ini isinya review dari saya untuk semua pihak yang membantu dalam terlaksananya pernikahan saya. Oke mari kita mulai saja ya.

1. Mahar
Kenapa bahas mahar dulu? Karena mahar adalah salah satu syarat sah nya sebuah pernikahan dalam islam. Mahar memiliki makna yang cukup dalam, menandakan bahwa seorang wanita harus dihormati dan dimuliakan, diberikan dengan penuh keikhlasan dan kerelaan dan nantinya akan menjadi hak istri sepenuhnya.
Untuk urusan mahar ini alhamdulillah di sekeliling saya banyak orang bertalenta urusan hias menghias dan kreatif, jadi ya nggak terlalu susah untuk mencari vendornya. Untuk mahar saya percayakan pada Mahar Nikah Klaten.
Mahar nikah klaten ini kebetulan usaha milik bapak kepala sekolah tempat saya mengajar dulu. Beliau memang jempolan urusan membuat kreasi-kreasi bagus, jadi saya nggak ragu untuk pesan ke beliau. Jauh-jauh hari saya sudah pesan sama Pak Yunan untuk membuatkan mahar saya, karena  takut nggak dapat slot pemesanan. Maklum orderan beliau ini banyak sekali, dan nggak cuma sekitar klaten lho.





Karena mahar saya uang, jadi dari awal saya memang nggak pengen uangnya dilipat-lipat dan dibentuk macam-macam. Saya mau sederhana, nggak ribet, tapi tetap elegan dan manis. Alhamdulillah bang ewox juga sependapat sama saya urusan mahar, akhirnya jadilah mahar seperti foto di atas.
Saya sih puas sama hasilnya. Seperti mau saya, dan lumayan cepet untuk pembuatannya. Mungkin sekitar 3 mingguan. Itupun di h-sekian saya masih ngerecokin pak Yunan minta diubah karena maharnya nambah. Untungnya pak Yunan baik hati dan gerak cepat jadilah maharnya sebelum hari H.

2. Venue
Salah satu hal krusial dalam menyelenggarakan pernikahan (selain calon istri/suami, penghulu, mahar, saksi ya) adalah tempat atau lokasi acara. 
Untuk venue sendiri, di Klaten sendiri sudah cukup banyak pilihan tempat yang bisa dipakai untuk menyelenggarakan pernikahan. Misalnya Gedung Al Mabrur, Gedung Wongso Menggolo, Gedung RSPD, PG Gondang, gedung-gedung pertemuan atau balai di masing-masing kecamatan, bahkan Masjid Agung Al Aqsa Klaten yang sekarang sering dijadikan tempat menggelar akad nikah juga menyediakan aula untuk acara resepsi pernikahan.
Mau pilih gedung yang mana, tinggal disesuaikan dengan dana yang disiapkan, atau bisa juga menggelar acara sendiri di rumah.

Kalau di pengalaman kemarin, kami sekeluarga memutuskan menggelar acara di gedung karena beberapa pertimbangan seperti karena permintaan saya supaya ibuk dan bapak lebih nggak repot menyiapkan dan rumah nggak terlalu riweuh serta berantakan (yang nyatanya tetep berantakan dan penuh juga sih).
Sebenarnya impian menikah saya itu pengen pesta kebun, ala-ala piknik gitu loh. Jadi kalau bisa tuh ya di taman, di luar ruangan, atapnya bukan ternit tapi langit, dan lebih santai supaya nggak terpaku di pelaminan gitu. Jadi waktu ditanya mau di mana sama orang tua, saya bilang maunya di PG Gondang. Di kawasan homestaynya PG Gondang (berdasar foto-foto orang yang pernah menikah di sana) bisa dijadikan untuk pesta kebun gitu, makanya saya pengen banget di sana.
Tapi yah, namanya juga menikah ini bukan cuma hajatan anaknya aja, tapi juga sebagai bentuk syukuran orang tua, jadi orang tua langsung menolak pilihan venue itu karena pertimbangan lokasi yang jauh dari rumah. Kasihan sama tetangga di sekitar rumah katanya kalau lokasinya jauh. Alhasil pilihannya jatuh ke Gedung Al Mabrur yang jaraknya nggak ada 5 km dari rumah.

Setelah menentukan lokasi mau di mana, ternyata masih ada drama dalam urusan venue ini. Jadi waktu bapak dan ibuk ke sana untuk survey dan tanya-tanya, ternyata di tanggal itu juga sudah ada yang tanya-tanya tentang ketersediaan gedung. Pusing kan ya, tanggal sudah ditentukan, eh ternyata gedungnya nggak kosong (Kebetulan kami memang menentukan tanggal dulu baru pilih gedung, dan kebetulan juga bersamaan dengan ulang tahun saya hehehe).
Tapi alhamdulillahnya mungkin memang rezeki kami, kata pengelola gedung karena yang tanya-tanya itu belum memberikan tanda jadi kesepakatan, jadi gedung itu masih kosong alias masih bisa dipesan di tanggal itu. Langsung saja sorenya kami memberikan tanda jadi sebelum gedungnya dipesan orang lain, dan jadilah urusan venue beres tanpa masalah.

Al Mabrur sendiri memiliki beberapa paket penyewaan yang ditawarkan, disesuaikan dengan jumlah tamu, dan konsep acaranya apakah dengan prasmanan atau piring terbang. Kalau di Klaten sendiri, masih banyak sekali kok acara pernikahan dengan konsep priring terbang. Maksudnya piring terbang adalah tamu tinggal datang dan duduk, menikmati acara sampai selesai (biasanya banyak adatnya seperti atur pambagyoharjo, pasrah temanten baik dari temanten kakung atau putri, sungkeman, temon, dan lain sebagianya) dan dilayani dalam urusan perjamuannya.
Untuk paketnya, silakan dicek ke website mereka ya (klik link di atas), di sana ada detil harga dan fasilitas yang diberikan, termasuk nanti akan ditawari juga mau menggunakan jasa WO dari sana atau tidak.

Saran saya kalau mau menyelenggarakan acara di gedung-gedung tersebut, jauh-jauh hari memang sudah harus survey dan tanya. Kalau saya kemarin setelah menentukan tanggal pernikahan, 6 bulan sebelumnya sudah survey dan pesan lokasi karena hampir tiap akhir minggu semua gedung-gedung yang saya sebut itu pasti digunakan untuk acara. Jadi ada baiknya kalau memang pengen di gedung-gedung tadi ya sudah harus pesan beberapa bulan sebelumnya. Atau kalau misal ngotot mau menyelenggarakan acara di gedung A, ya berarti mau nggak mau memang harus menyesuaikan dengan hari dan tanggal yang kosong di gedung tersebut.

3. Cincin
Selanjutnya yang mau saya bahas adalah cincin. Cincin ini sebenernya nggak wajib ya, nggak pakai ya nggak apa-apa, pakai pun lebih oke. Kenapa? Kalau kami sih buat pertanda kalau pasangan kita itu udah punya orang, dan semacam pembatas supaya nggak ada yang macem-macem sama pasangan kita. wkwkwkw.
Nah untuk cincin nikah ini, kebetulan saya dan bang ewox nggak ganti cincin. Maksudnya gimana tuh nggak ganti cincin? Iya, jadi cincin yang kami pakai di lamaran dan nikah itu sama. Cuma pindah aja masangnya. Dari jari kiri ke jari kanan.
Ngirit banget sih nggak ganti cincin. Ya gapapa, sayang uangnya besok biar bisa buat beliin saya cincin yang lain, berlian misalnya, ye nggak bang ewox 😚

Pencarian cincin ini juga lumayan lama sih, tapi carinya sebelum lamaran karena cincin kami kan nggak ganti. Karena bang ewox nggak boleh pakai emas, jadi dari awal kami sengaja cari vendor cincin yang punya alternatif bahan selain emas. Kami suka cincin yang simpel, nggak ramai, dan timeless. Ada beberapa vendor yang menarik perhatian kami, contohnya rockologist, dan spilla.
Dari awal saya sudah jatuh cinta banget-banget sama si rockologist. Bentuk-bentuk dan bahan cincin mereka pakai ini lain dari yang lain. Simpel tapi cantik banget menurut saya. Kebanyakan bentuknya menonjolkan detil pahatan batu, nggak halus seperti cincin kebanyakan, tapi justru itu yang menarik buat saya. Tapi, akhirnya kami nggak menggunakan vendor ini karena si bang ewox lebih pilih bikin di spilla.
Spilla ini punya 3 workshop, ada di Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang, jadi bagi para capeng yang mau lihat-lihat langsung koleksinya bisa datang ke sana langsung. Kebetulan karena lokasi kami di sekitar Yogyakarta, maka kami menyempatkan datang ke workshopnya langsung di daerah Kotagede. Yang ada di sekitar Yogya pasti tau lah ya kalau Kotagede memang terkenal dengan kerajinan peraknya.
Di Spilla sendiri menawarkan tiga jenis bahan yang bisa dipakai, yaitu silver, gold, dan paladium. Kita bisa memesan satu pasang cincin dengan bahan yang sama, atau berbeda. Misal mau sepasang cincin gold untuk perempuan, dan paladium untuk laki-laki. Selain itu, mereka juga menawarkan cincin dengan 3 warna yaitu gold, white, and rose gold. Dan bisa dikombinasikan juga, misal mau white dengan sentuhan rose gold atau gold.
Servisnya juga cukup baik kok, ketika sampai di sana kami ditunjukkan beberapa contoh koleksi mereka dan dibantu dalam hal pemilihan model dan detil cincin yang diinginkan.
Jadi vendor ini sangat membantu sekali bagi pasangan muslim yang sebenarnya pengen pakai cincin tapi masih ragu takut emas, karena tetap bisa pakai cincin dengan bahan yang oke punya.


Model cincin saya dan bang ewox. Punya bang ewox nggak ada matanya.

Mungkin cukup tiga ini dulu kali ya saya bahasnya, nanti di postingan selanjutnya saya akan bahas beberapa hal lain seperti rias, dekorasi dan foto (karena satu paket), attire & sepatu, dan katering.

Xoxo

Sunday, September 13, 2015

Bukan 'Sekedar' Pekerjaan

Cerita kelima di 30 Hari Kotaku Bercerita

Ternyata sudah separuh perjalanan mengikuti proyek menulis ini, meskipun kadang masih susah dan bingung mau nulis apa tapi sejauh ini saya masih menikmatinya.
Oke mari kita langsung ke pokoknya, tema hari ini adalah 'pekerjaan kami sehari-hari' jadi saya akan sedikit bercerita mengenai beberapa pekerjaan yang dikerjakan masyarakat tempat saya tumbuh besar ini. Secara umum masyarakat Klaten masih banyak yang berprofesi sebagai petani dan pedagang, namun di beberapa daerah terutama di desa wisata, masyarakat sekitar berprofesi sesuai dengan potensi wisata yang sedang berkembang di daerah tersebut, misalnya sebagai perajin tenun lurik, dan perajin gerabah.

Luas lahan pertanian Kabupaten Klaten mencapai hampir lebih dari 65% dari total wilayahnya, dengan didukung kecukupan irigasi yang baik dan lahan yang subur menjadikan Klaten menjadi salah satu produsen beras yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Salah satu jenis beras yang sudah terkenal di seantero Nusantara adalah beras rojolele yang berasal dari suatu daerah di Klaten yang bernama Delanggu. Tak jarang karena luasnya lahan pertanian ini banyak sekali masyarakat yang berprofesi sebagai petani, baik itu yang mengerjakan sawah milik sendiri atau sawah milik orang lain.
Bertani, saya kira masih merupakan satu profesi yang menurut masyarakat masih sangat menjanjikan dan dapat dijadikan tumpuan ekonomi.

Saya sendiri sejujurnya belum pernah melihat dengan pasti lahan-lahan persawahan di daerah Delanggu yang berasnya sudah terkenal dan banyak dikonsumsi masyarakat luas itu, namun saya tidak sangsi bahwa Klaten memang sangat kaya dengan sawah. Pernah suatu kali saya berkeliling ke beberapa daerah di Klaten hingga ke beberapa desa yang belum pernah saya jamah dan melihat hamparan sawah yang membentang luas, dan sejauh mata memandang hanya warna hijau padi dan biru langit yang saya lihat. Tidak hanya di satu atau dua desa, namun banyak sekali desa yang masih mengandalkan pertanian sebagai roda perekonomian mereka, termasuk di desa saya sendiri.
Gambar diambil dari sini
Kalau ada yang belum tahu apa itu lurik, lurik adalah kain tenun yang pola gambarnya berupa garis-garis memanjang vertikal yang pengerjaannya menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Beberapa daerah seperti Cawas, Pedan, Bayat adalah wilayah yang menjadi sentra kerajinan lurik, maka tak heran jika mayoritas penduduk sekitar berprofesi sebagai perajin tenun lurik. Yang saya baca pada tahun 2012 data dari BPS total ada sekitar 1200 perajin tenun lurik yang tersebar di beberapa daerah sentra lurik di berbagai wilayah di Klaten. Untuk mendukung potensi daerah itu, Pemerintah Kabupaten Klaten juga telah menggalakan program lurikisasi yaitu dengan menjadikan kain tenun lurik sebagai salah satu seragam wajib yang harus dikenakan pegawai pemerintahan, bukan hanya untuk mengangkat nama lurik, namun juga untuk mengangkat potensi ekonomi masyarakat.
Perajin tenun lurik. (Gambar diambil dari sini)
Monumen perajin tenun lurik dengan ATBM. (Gambar diambil dari sini)
Selain perajin tenun lurik, ada pula perajin gerabah di desa wisata Melikan. Hampir sebagian besar masyarakatnya menggeluti profesi ini, dan di desa wisata yang lokasinya berdekatan dengan kawasan wisata ziarah Paseban Bayat itu mudah ditemui sentra-sentra kerajinan di pinggir jalan yang menjual berbagai gerabah hasil buatan tangan penduduk lokal. Teknik yang digunakan para perajin dalam membuat gerabah dan keramik di Desa Melikan adalah dengan teknik putaran miring. Teknik putaran miring ini menggunakan alat putar dari kayu dan bambu dengan posisi miring kurang lebih 35 derajat. Menurut kabar kerajinan gerabah Desa Melikan ini juga sudah dilirik pasar mancanegara seperti beberapa negara di Eropa lho, jadi saya kira industri gerabah Melikan ini juga tak kalah dengan industri gerabah Kasongan di Yogyakarta dan cukup untuk memberikan penghidupan yang layak bagi penduduk lokal.
Gambar diambil dari sini
Itu adalah beberapa pekerjaan yang sampai sekarang masih banyak digeluti masyarakat Klaten. Memang sudah banyak pembangunan yang terjadi di Klaten mulai dari infrastruktur, pembangunan mental dan pendidikan yang menjadikan masyarakat menekuni profesi-profesi lain yang seringkali dianggap sebagai profesi yang wah seperti karyawan perusahaan, pegawai negeri, pengusaha, dokter, dan sebagainya namun jangan pula menganggap sebelah mata profesi-profesi lain, karena di luar itu tidak sedikit pula masyarakat Klaten yang masih mempertahankan kearifan-kearifan lokal daerahnya dan menjadikan potensi-potensi yang sudah ditinggalkan nenek moyangnya sebagai ujung tombak mata pencaharian mereka dan meningkatkan perekonomian mereka.

Pada akhirnya ukuran kecukupan pendapatan yang diperoleh juga kembali lagi ke pribadi orang yang melakukan pekerjaan itu dan kebutuhannya, karena sejatinya sebuah pekerjaan, apapun itu selama masih dilakukan dengan hati, halal, tidak merugikan orang lain dan dapat memberikan penghidupan serta kebahagian bagi yang melakukannya adalah sebaik-baiknya pekerjaan.

Love,
Ajeng

Monday, September 07, 2015

Pasar Senggol

Cerita ketiga di 30 Hari Kotaku Bercerita..

Ketika saya sadar tema hari ketiga dalam proyek ini adalah pasar, saya bingung, asli bingung karena nggak ngerti mau nulis apa tentang pasar. Jujur saya sama sekali nggak tahu menahu tentang dunia pasar, tapi ya okelah anggap aja ini tantangan buat saya.
Kali ini saya akan cerita tentang salah satu pasar tradisional yang letaknya nggak jauh dari rumah saya. Namanya adalah Pasar Senggol. Lokasinya (menurut yang saya baca) adalah di Desa Drono, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Tapi kalau menurut saya sih pasar ini berada di perbatasan antara Desa Drono dan Desa Candirejo, karena lokasinya diantara kedua desa tersebut.

Mengapa disebut Pasar Senggol, saya sendiri juga nggak tahu alasannya karena kebetulan belum pernah mendengar sejarahnya. Pasar Senggol tak jauh berbeda dengan pasar tradisional kebanyakan, di sana banyak kios kios pedagang yang menjual beraneka ragam barang, dari bahan makanan mentah, makanan jadi, sampai peralatan rumah tangga. Luas Pasar Senggol sekitar 600 meter yang terdiri atas 24 kios dan enam los serta digunakan oleh 75 pedagang.
Gambar diambil dari sini
Saat masih kecil, kira-kira waktu masih TK saya masih sering main ke pasar ini. Terkadang ikut Ibu yang berbelanja, dan tak jarang ikut saudara saya yang kebetulan adalah salah satu pedagang di pasar. Bentuk kios dan los di pasar senggol terdiri dari emperang-emperan kecil dan tidak bersekat papan ataupun tembok. Hanya ada beberapa kios saja yang berbentuk seperti gubuk yang dibatasi tiang kayu dan bersekat, selebihnya hanya emperan semen. Biasanya pembagian blok pedagang di sana berdasarkan jenis barang yang dijual. Misalnya pedagang daging biasanya nggak deket-deket sama pedagang sayur dan buah, mungkin untuk mengurangi risiko terjadinya kontaminasi silang kali ya.

Setelah cukup dewasa, saya sudah sangat jarang ke pasar senggol dan melihat keadaan dalamnya meskipun beberapa kali sering lewat di jalan depan pasar. Kabar yang saya baca, katanya pasar ini akan segera direnovasi keadaannya oleh pemerintah daerah karena sudah banyak sekali bagian pasar yang rusak seperti atap bolong dan genting yang sudah banyak pecah. Semoga saja kabar ini benar dan segera direalisasikan karena pasar ini adalah salah satu pusat perekonomian bagi beberapa masyarakat sekitar.

Love,
Ajeng

Friday, September 04, 2015

Taman : Hijau di Teriknya Kota



Cerita kedua di 30 Hari Kotaku Bercerita

Kalau mendengar kata ruang publik maka yang akan terpikir di kepala saya adalah taman tempat masyarakat biasanya berkumpul. Dulu, kira-kira beberapa tahun yang lalu kalau saya tidak salah ingat, di Klaten sendiri belum ada taman kota atau sudah ada namun saya tidak cukup gaul untuk tahu ada taman kota. Setahu saya memang ada hutan kota, tapi yang saya tahu dulu semasa saya masih SMP hutan kota yang letaknya persis di depan sekolah saya ini tidak dirawat dengan baik, rimbun, dan justru terkesan angker karena lokasinya yang kebetulan dekat dengan kawasan pemakaman padahal menurut saya kalau dirawat dengan baik tempat ini lucu buat lokasi piknik karena pohon-pohonnya yang tinggi dan rindang dan bisa juga buat foto pra nikah (kalau mau).

Beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah Klaten sedang gencar-gencarnya membangun ruang terbuka hijau yang bisa dinikmati oleh masyarakat, yaitu taman serta membenahi hutan kota yang awalnya dibiarkan terbengkalai. Ada beberapa taman yang dibangun antara lain taman lampion (yang sampai sekarang saya masih belum tahu mengapa disebut taman lampion padahal sama sekali nggak ada lampionnya), taman kecil di belakang Stadion (yang sayangnya saya tidak tahu apa namanya), dan tentu saja taman kota yang berada di jantungnya kota Klaten.

Taman lampion ini terletak di belakang gedung PMI Kabupaten Klaten, tepatnya di Kelurahan Bareng Lor, Klaten Utara. Taman ini tergolong taman baru di Kabupaten Klaten. Pertama kali saya dengar nama taman lampion, yang terpikir adalah taman pelangi di Monumen Yogya Kembali, yang dipenuhi dengan lampion lucu yang terpasang di beberapa bagian, namun ternyata saat ke sana taman ini tak jauh berbeda dengan taman pada umumnya, hanya saja konsep taman ini lebih condong ke gaya Tionghoa. Beberapa bangunan gazebo didesain dengan gaya khas Tionghoa dengan menonjolkan warna yang menjadi ciri khasnya yaitu merah. Di area tengah taman terdapat kolam yang cukup besar dengan air mancur yang menyembul. Di seberang taman ini juga dibangun Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) bagi warga yang mungkin belum memiliki hunian.

In frame : Teman-teman saya
Gazebo Taman Lampion
Dari Taman Lampion yang letaknya tidak persis di pinggir jalan, saya beralih ke taman yang berada di pusat kota. Taman kota Klaten tepat berada di samping Alun-alun Kota Klaten, dan hanya dipisahkan jalan. Dari hasil saya baca-baca sedikit, baru saya tahu dulu sekali lokasi yang dijadikan taman ini adalah lokasi bioskop pertama dan satu-satunya di Klaten, yaitu Bioskop Rita. Seiring berjalannya waktu, bioskop kebanggaan ini lenyap dan mulai digantikan dengan barisan pertokoan yang mulai memenuhi kawasan ini. Entah sejak kapan, saya lupa tahun berapa barisan pertokoan yang berada di kawasan ini mulai direlokasi dan dijadikan ruang terbuka hijau yang diperuntukan bagi masyarakat.
Gambar di ambil dari sini
Taman kota ini tidak hanya berisi pepohonan hijau yang menyejukkan mata namun juga dilengkapi dengan beberapa tempat duduk dan area permainan anak. Selain itu jalan setapak yang dirancang juga dapat berfungsi sebagai jalan untuk refleksi, jadi selain sebagai tempat rekreasi taman ini juga dapat difungsikan sebagai tempat olahraga. Di sore hari banyak anak-anak kecil yang bermain di wahana permainan yang tersedia, dan ketika malam hari taman ini akan semakin penuh orang terutama di akhir pekan, terlebih lagi di sekitar Alun-alun Kota sering dijadikan pasar malam dadakan yang hampir tiap hari digelar. Akan semakin banyak wahana permainan dan aneka jajanan pinggir jalan yang ditawarkan, jadi tidak perlu khawatir kamu akan kelaparan saat nongkrong di sini. Oiya, di taman ini juga disediakan tempat sampah yang memadai di beberapa titik, jadi kamu nggak perlu khawatir untuk buang sampah bekas makanan secara sembarangan.
Latar : Pasar Malam dadakan Taman Kota
 
Gambar diambil dari sini
Sebagai ruang publik, taman yang luasnya tidak lebih besar dari Taman Lampion ini menurut saya dapat dijadikan salah satu pilihan bagi masyarakat yang ingin merasakan hijaunya Kota dan tempat rekreasi bagi keluarga tanpa harus mengeluarkan uang untuk menikmati beberapa wahana yang disediakan. Harapan saya semoga dengan dibangunnya ruang terbuka hijau di pusat-pusat kota akan memberikan pilihan lain bagi masyarakat untuk berekreasi selain di pusat perbelanjaan dan tempat makan, selain itu semoga taman-taman ini juga memberi keteduhan dan dapat mempercantik Kota di tengah ramainya lalu lintas jalan raya. Dan yang terpenting semoga masyarakat di sini juga ikut menjaga dan merawat fasilitas publik yang disediakan dengan sebaik-baiknya, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarang di kawasan taman, tidak merusak tanaman dan fasilitas yang ada, dan tidak mengotori kawasan ini dengan mencoret-coret sesuka hati.

Jadi, masihkah kamu enggan main ke taman di kota kami?

Love,
Ajeng

Tuesday, September 01, 2015

Monumen Juang 45 Klaten



Saya sebenarnya cukup bingung akan menulis apa untuk postingan pertama di #30HariKotakuBercerita ini, karena saya sendiri nggak cukup paham tentang ikon kota kelahiran saya ini. Kebingungan saya ini akhirnya membuat saya melempar pertanyaan ke beberapa teman yang tinggal di kota yang sama, dan jawabannya cukup beragam. Ada yang menyebut ikon kuliner yang cabangnya sudah tersebar di banyak Kota, ada pula yang menyebut Candi Prambanan yang sebenarnya kota kami hanya kebagian tempat parkirnya hehe. Sampai saya menulis postingan ini pun saya masih belum yakin apakah bangunan/tempat ini adalah ikon Klaten, namun biarlah saya mencoba membagi yang saya tahu menurut sudut pandang saya sendiri.
Klaten adalah Kabupaten kecil yang sebenarnya kalau kita punya cukup waktu untuk berkeliling ke setiap sudut daerahnya maka kita akan berkata dalam hati “Oh ternyata Klaten nggak sekecil ini ya” begitu kira-kira respon saya ketika pernah suatu kali berkeliling ke beberapa daerah di Klaten yang baru pertama kali saya tahu.
Tentang ikon kota ini maka saya akan bercerita tentang Monumen Juang 45 Klaten yang letaknya tepat di kawasan GOR Gelarsena Klaten. Monumen juang ini dibuat dalam rangka untuk mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan. Diresmikan oleh Soepardjo Roestam pada tanggal 20 Mei 1976. Di monumen ini terdapat beberapa patung pahlawan yang sedang mengangkat senjata dan juga ada monumen besar yang terpasang lambang Garuda Pancasila.




 

Akhir-akhir ini monumen juang ini sering sekali menjadi salah satu objek untuk berfoto, terutama oleh sebagian anak muda Klaten. Hal ini bagus tentu saja, setidaknya dengan begitu banyak anak muda yang mulai mencintai tempat kelahirannya dengan cara mengeksplor tempat-tempat yang ada di sekitarnya, dan tentu saja dengan catatan tidak merusak bangunan dan tetap menjaga kebersihan di sekitar tempat tersebut.
Saya tidak bisa terlalu bisa menjelaskan sejarah dibangunnya monumen ini dengan amat detil, mengingat di sana tidak ada penjelasan yang rinci mengenai monumen ini, dan belum ada pula yang bisa menjelaskannya pada saya.





Mungkin ini dulu yang dapat saya ceritakan tentang kabupaten tempat saya tinggal. Kabupaten kecil yang menghubungkan Solo dan Yogyakarta, Kabupaten yang mungkin terdengar asing di telinga kalian. Selanjutnya selama 30 hari ke depan saya akan mulai bercerita tentang Kabupaten ini sepengetahuan saya, baik dan buruknya.

Love,
Ajeng

Saturday, June 06, 2015

Dolan Klaten

Karena liburan itu nggak selalu harus mahal. Yak benar sekali kalimat yang beberapa kali aku dengar itu. Sejatinya liburan itu nggak harus melulu pergi ke tempat-tempat baru yang memerlukan budget yang ekstra, cukup disesuaikan dengan dana yang ada di kantong. Kalau sekiranya bisa nabung untuk liburan ke tempat impian, ya monggo saja itu malah lebih baik. Namun, jika dana di kantong dirasa nggak cukup dan lebih dialokasikan untuk keperluan lain, itu juga pilihan yang tidak salah. Nah gimana dong caranya liburan tapi tetep murah meriah? Postingan kali ini bukan bermaksud memberi tips liburan dengan dana seadanya, cuma aku mau berbagi sedikit contoh liburan yang tidak memerlukan budget banyak dan jaraknya mudah dijangkau dari lingkungan rumahku.
Kira-kira beberapa bulan yang lalu, aku lupa tepatnya bulan apa namun aku ingat itu hari jumat karena saat kami (aku, dan kedua temanku) mencari lokasi-lokasi untuk foto banyak para lelaki berbaju koko yang menuju masjid. Oke ini nggak nyambung tapi yasudahlah ya mari kembali ke topik utama. Beberapa bulan lalu, aku, the newlywed Ifa dan Atika sedang jenuh-jenuhnya karena tidak ada aktivitas paska menyelesaikan sekolah kami. Karena kejenuhan itulah akhirnya kami bertiga merencanakan melakukan trip murah meriah ala kami. Nah sebelum melakukan trip (yang seharusnya lebih aku sebut sebagai photo session) ini, Atika yang punya beberapa akun sosial media yang hits sudah berselancar mencari tahu lokasi-lokasi yang cocok untuk dilakukan sesi foto, jadi pada saat eksekusi kami sudah tidak bingung lagi mau ke mana.
Here we goooo.....

Thursday, May 14, 2015

Surat Sehat Jasmani, Rohani dan Bebas Narkoba di RSJD Klaten

Holaaaaaa....
Kali ini aku mau berbagi sedikit tentang pengalaman tes fisik jasmani rohani dan tes bebas narkoba yang baru pertama kali aku lakukan. Mungkin di antara kalian ada juga yang pernah melakukan tes ini, entah untuk keperluan sekolah atau kerja. Kalau aku sendiri alasan utama tes ini untuk keperluan kerja, lebih tepatnya mendaftar kerja sih. Jadi tempat yang aku mau daftar ini mensyaratkan kandidatnya melakukan tes sehat jasmani rohani dan bebas narkoba, jadilah aku pun menjalaninya demi masa depan cerah. Ceilah.
Jadi pagi sekitar pukul 08.30 aku ke Rumah Sakit untuk melakukan tes itu. Nggak deg-degan sih cuman nggak tahu aja nanti di sana ngapain :D Aku sendiri melakukan kedua tes tersebut di RSJD Dr. RM. SOEDJARWADI Klaten atau kalau orang-orang sini lebih sering menyebutnya 'Gal Dhuwur'.
Dilihat dari namanya Rumah Sakit ini memang memberikan pelayanan khusus yang menyangkut kondisi kejiwaan seseorang, baik itu di bidang pencegahan, pemulihan dan juga rehabilitasi. Namun ternyata berdasar pengamatan langsung pelayanan yang ditawarkan juga cukup banyak meliputi Klinik Jiwa, Klinik Tumbuh Kembang Anak, Klinik Ketergantungan Obat/NAPZA, Klinik Penyakit Syaraf, Klinik Kesehatan Gigi dan Mulut, Penyakit Dalam, VCT, dan beberapa Klinik lain yang aku lupa apa aja. Jadi nggak cuma khusus untuk menangani kejiwaan tapi juga ada beberapa pelayanan lainnya.

Tuesday, April 28, 2015

Prosedur Izin Penelitian di Klaten

Holaaa....ketemu lagi sama Ajeng yang masih aja jomlo tapi tetep bahagia dan semangat selalu. ceileh
As I promised yesterday (on twitter) I'll post something useful (I hope). Sesuatu yang berguna? Apaan tuh? Bukan, bukan resep masakan ataupun tutorial hijab, karena aku nggak jago masak dan pakai jilbab juga mentok di segitiga dikasih jarum. Bhay
Kali ini aku mau posting tentang prosedur mengurus izin penelitian di Kabupaten Klaten. Nah buat teman-teman atau kakak-kakak atau adik-adik yang akan mengurus surat izin penelitian/riset dalam rangka skripsi, disertasi, atau penelitian dari lembaga penelitian boleh loh baca postinganku ini.