Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Monday, November 09, 2015

Cerita Hujan

Musim hujan tahun ini berjalan lambat, November ini hujan baru mulai turun di beberapa kota, salah satunya di tempat di mana aku tinggal. Aku sendiri cukup antusias saat pertama kali hujan turun di kotaku. Hanya gerimis kecil yang bahkan tidak sampai lima menit tapi cukup membuatku tertawa kegirangan.
Banyak orang yang mungkin membenci hujan, namun tak sedikit pula yang mencintainya. Aku adalah orang yang mecintai sekaligus merasa kesal beberapa kali karena hujan.

pic taken from here
Aku mencintai hujan ketika aku sedang berada di dalam ruangan dan tidak merasakan dingin karena basah yang menyentuh tubuhku. Aku sangat suka menikmati hujan dari dalam kamarku. Aku akan menghabiskan waktu hanya dengan duduk di atas tempat tidur dan memandang hujan turun  lewat jendela kamar. Kamu mungkin akan membayangkan apa yang kulakukan ini seperti adegan-adegan film yang biasa kamu tonton, namun yang kulakukan tak seromantis itu. Aku tidak menikmati hujan dengan ditemani segelas cokelat hangat, lalu memandang embun yang menempel di kaca jendelaku. Aku hanya akan melihat keluar, memandang bulir air yang jatuh ke tanah dan sesekali mengendus bau tanah basah yang dihasilkan.
Pada momen-momen melankolis seperti itu, biasanya beberapa kenangan masa lalu menyeruak di kepala, misalnya kenangan ketika mantan pacarku dulu memberi sedikit kejutan kecil untukku. Aku masih ingat ketika mantan pacarku itu menyuruhku untuk memeriksa hadiah yang dia siapkan di laci mejaku, namun tak kutemukan apapun selain sampah bungkus permen sisa kemarin. Lalu aku mulai mengecek semua laci meja di kelasku itu demi menemukan hadiah yang dia maksud. Dan betapa bahagianya diriku waktu itu ketika menemukan sekotak kecil cokelat beserta pesan pendek yang ternyata menyasar di laci meja temanku. “Cokelat manis untuk perempuan manis. Semoga kamu senang dengan hadiah kecil ini” pipiku bersemu merah saat membaca pesan pendek itu. Lalu malam harinya mantan pacarku itu menelepon dan bertanya bagaimana perasaanku saat menerima hadiah yang ia berikan, dan kuceritakan kebingunganku saat harus menelusuri satu persatu meja kelas demi menemukan cokelat yang rasanya enak sekali itu. Kami berdua bercerita banyak hal dan tertawa malam itu, bahagia karena merasa saling menyayangi satu sama lain. Aku suka hujan saat itu, karena membawa ingatan menyenangkan di kepalaku.
Pada kesempatan yang lain, hujan mampu membuatku kesal, terutama ketika sedang bepergian dengan mengendarai motor kesayanganku sedang aku lupa membawa jas hujan. Aku tidak suka harus basah-basahan dan merasa kedinginan ketika mengendarai motorku. Memang itu salahku karena aku lupa membawa jas hujan, namun tetap saja aku akan kesal dan menyalahkan kenapa hujan harus turun saat aku bepergian dan lupa membawa jas hujan. Egois dan tidak bersyukur memang kelakuanku itu kalau dirasa.
Aku juga tidak suka hujan yang tak jarang membawa kenangan yang tidak ingin kuingat-ingat lagi. Misalnya ketika tiba-tiba aku teringat akan kebodohanku di masa lalu yang membuatku menyesal karena telah melakukannya. Mengingat kebodohan yang pernah kulakukan membuatku merasa menjadi orang yang menyebalkan, tidak peka, dan jahat yang pada akhirnya justru membuatku sedih ketika teringat semuanya. Aku akan menangis setelahnya, menyesali semua hal yang pernah kulewatkan dan keputusan yang pernah kuambil.
Aku punya kesan sendiri terhadap hujan. Ia seperti mesin waktu yang selalu berhasil membawaku mengunjungi masa lalu dan memaksaku mengingat kenangan yang pernah terjadi, baik itu yang menyenangkan atau yang buruk. Hujan selalu membuatku larut bersama kenangan dan meninggalkan kesan lain di hatiku.

Sampai detik ini, aku masih antusias dan bersorak senang ketika hujan mulai turun. Esok lusa, mungkin aku tidak akan seantusias seperti kali pertama hujan turun, mungkin aku akan mulai kesal, mengeluh dan mengumpat ketika hampir setiap hari harus kehujanan dan merasakan dinginnya, tapi aku selalu percaya bahwa hujan akan selalu memberikan kesejukan, keberkahan dan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkannya. Semoga

Wednesday, August 12, 2015

Belum berjudul



Aku gagal lagi. Kegagalan yang entah sudah ke berapa kali sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Kegagalan mungkin sudah menjadi makananku sehari-hari dan akrab dalam hidupku, atau mungkin kata ‘berhasil’ tidak pernah mau bersahabat denganku. Aku tak tahu sebabnya yang jelas keberhasilan masih sangat jauh dari jangkauan mataku.
Hidupku dipenuhi dengan kegagalan dan kekacauan yang tidak semuanya terjadi karena ulahku, beberapa adalah sumbangsih dari orang-orang di sekitar yang merasa berhak atas hidupku. Aku bahkan sudah lupa kali terakhir aku merasa bahagia karena apa yang ku lakukan dan ku usahakan membuahkan keberhasilan. Entahlah.
Seringkali ketika malam hari dan semua orang sudah terlelap dalam mimpi indahnya, sedang aku masih terjaga, aku menangis seorang diri dalam kamarku yang gelap. Tangisan tanpa isak, namun terasa lebih menyakitkan daripada tangisan ketika aku sering terjatuh saat masih kecil dulu. Aku menangisi semua kegagalan yang terjadi, harapan-harapan yang sudah terlanjur dipupuk terlalu tinggi dan wajah-wajah kecewa dari orang tuaku. Semua itu berkelebat silih berganti tanpa bisa ku atur dan semakin menyiksa hatiku. Tak ada yang lebih membuatku patah hati dan sedih berkali lipat kecuali melihat kekecewaan dan kesedihan pada wajah lelah dan gurat senja orang tuaku. Duniaku seakan runtuh dan tak ada lagi cahaya terang yang membawa kebahagiaan ketika aku meyaksikan itu semua.
Harapan dan kegagalan, aku benci dua kata itu. Seharusnya aku tak terlalu berharap pada apapun di dunia ini sehingga aku tak akan kecewa jika harapanku tak sesuai dengan kenyataan, seharusnya aku bisa mengantisipasi kegagalan yang pernah ku lakukan agar tak ku ulangi lagi, seharusnya.

Ibu mengetuk pintu kamarku pelan namun tak ada jawaban. Ketukan itu berhenti setelah beberapa kali tak ku acuhkan. Kubenamkan diriku dalam selimut tebal dan mulai menangis. Tangisan sunyi tanpa isak, entah untuk yang ke berapa kali sejak aku mulai mengerti rasanya kecewa karena harapan yang berlebihan. Air mataku merembes dan membasahi bantal beruang kesayanganku. Aku benci dunia ini, Bu...

bersambung.............

Sunday, July 05, 2015

Kamu Suka atau Benci?

Beberapa orang mengekspresikan rasa sukanya kepada orang lain dengan cara yang berbeda. Cara yang kadang justru membuat orang disukainya menjauh, dan tak jarang membuatnya dibenci. Tidak semua orang menunjukkan rasa suka ke orang lain dengan cara yang manis, dan juga baik. Beberapa justru melakukan hal sebaliknya, dengan tujuan membuat orang yang disukainya memperhatikannya. Mungkin itu berhasil, namun juga tak sepenuhnya benar.
Kalau membahas tentang ini, aku jadi ingat dengan Helga di salah satu serial kesukaanku waktu kecil, Hey Arnold!. Bagi yang sering menonton serial ini waktu kecil, sudah pasti tahu bagaimana sifat dan sikap Helga yang sering ditunjukkan kepada Arnold. Helga adalah anak perempuan yang suka mengganggu hari-hari Arnold, menjahili dan tak jarang mengejeknya. Namun, di balik semua perangai buruk yang ia tunjukkan sesungguhnya ia menyimpan perasaan sukanya pada Arnlod, tak jarang ia juga memimpikan bersama Arnold kelak saat dewasa.

Wednesday, June 10, 2015

Pada Hari Kamu Meninggalkanku

Pada hari ketika kamu memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal, aku sudah berpasrah akan hal itu. Wajahmu cerah, tampak bahagia ketika akhirnya aku mengiyakan keinginanmu untuk berpisah. Kusambut wajah bahagiamu itu dengan senyum tipis setulus mungkin demi membuat kamu tenang dan tidak mengkhawatirkanku. Kamu lalu memelukku. Pelukan yang teramat hangat, sehangat pelukan pertamamu dulu. Mungkin ini adalah pelukan terhangat yang pernah kamu berikan untukku selama ini. Kamu lalu melepas pelukan itu dan segera berlalu meninggalkanku yang masih mematung dan memasang wajah tersenyum demi membuatmu bahagia sampai jejak langkahmu hilang dan tak tampak dari mataku. Aku mulai menangis selepas bayanganmu hilang. Lirih dan tanpa suara namun sangat menyayat perasaan. Aku tak berhenti menangis sampai seorang teman baik mengulurkan tangannya untuk meraihku. Dia tersenyum sangat manis. Semanis senyummu ketika kamu meninggalkanku. Ah lagi-lagi aku mengingatmu. Sial.

Friday, May 08, 2015

Kala

Suatu malam Ibu bangun dengan keringat bercucuran di wajahnya yang sendu. Nafasnya terengah, dadanya naik turun dan sedikit sesak merasakan perih yang tak kunjung hilang. Ibu mencoba mengatur nafasnya kembali di antara engahan kelelahan. Ayah yang tidur di sampingnya terbangun merasakan kasurnya yang bergoncang akibat engahan Ibu. Tanpa komando Ayah menenangkan Ibu, mengelus punggung Ibu yang masih berguncang dengan tangannya yang sedikit kasar. Ibu menoleh, memandang Ayah yang masih menenangkan dengan tangan, mata dan senyum hangatnya. Sontak ibu memeluk Ayah, menangis tanpa suara namun deras air matanya cukup membasahi piyama yang Ayah kenakan. Mereka berpelukan. Lama. Hangat.
Hampir setiap malam selama dua tahun ini Ibu selalu mengalami hal yang sama. Bermimpi tentang kejadian yang telah merenggut putranya lalu menangis di pelukan Ayah. Menyalahkan dirinya sendiri, menyesali kemalangan yang menimpa putranya. Ayah pun tak pernah lelah melakukan hal yang sama, setiap malam selama dua tahun ini. Memeluk dan menenangkan Ibu yang menangis tanpa suara dengan tangan hangatnya hingga Ibu jatuh tertidur hingga pagi hari.

Tuesday, April 28, 2015

Mereka Bilang Aku Tukang Galau

Banyak yang bilang kalau aku itu tukang galau. Sebenarnya nggak banyak-banyak amat yang bilang gitu, ada beberapa tapi lebih dari dua. Pernyataan itu sendiri menurutku bisa benar bisa juga enggak. Kenapa gitu?
Ya kalau kalian yang nyebut aku tukang galau itu berdasar postingan-postinganku di sosial media yang lebih menjurus ke hal berbau galau, itu nggak sepenuhnya benar tapi juga nggak sepenuhnya salah. Aku emang suka posting atau share hal-hal yang katanya berbau galau. Sering banget aku nulis status yang menjurus ke hal semacam itu dan sering juga share tulisan orang yang kalau dibaca jadinya galau. Tapi, apakah semua yang aku share atau tulis itu selalu merujuk ke keadaan/kondisiku saat aku nulis atau bagi tulisan itu? Sejauh yang aku alami dan lakukan, setiap aku share hal-hal tersebut kondisiku nggak selalu dalam keadaan galau. Aku juga sering kok dalam keadaan baik dan seneng ketika aku share/nulis hal-hal tersebut. Kalau kalian pernah baca atau dengar kalimat “Nggak semua status yang ditulis seseorang itu benar. Bisa aja yang nulis status galau lagi ngupil, lagi pacaran, lagi bahagia-bahagianya” ya aku membenarkan kalimat tersebut.

Prosedur Izin Penelitian di Klaten

Holaaa....ketemu lagi sama Ajeng yang masih aja jomlo tapi tetep bahagia dan semangat selalu. ceileh
As I promised yesterday (on twitter) I'll post something useful (I hope). Sesuatu yang berguna? Apaan tuh? Bukan, bukan resep masakan ataupun tutorial hijab, karena aku nggak jago masak dan pakai jilbab juga mentok di segitiga dikasih jarum. Bhay
Kali ini aku mau posting tentang prosedur mengurus izin penelitian di Kabupaten Klaten. Nah buat teman-teman atau kakak-kakak atau adik-adik yang akan mengurus surat izin penelitian/riset dalam rangka skripsi, disertasi, atau penelitian dari lembaga penelitian boleh loh baca postinganku ini.

Thursday, April 09, 2015

Merayakan Kenangan

Awan hitam memenuhi langit sore ini. Aku duduk memandang langit gelap dan menerawang jauh ke atas. Potongan-potongan adegan itu muncul di gumpalan awan hitam, bergerak seakan mereka hidup dan aku menjadi penonton atas kejadian yang sedang berlangsung. Itu potongan adegan-adegan yang pernah kita lalui dulu, saat tanganmu yang hangat masih dengan mudahnya menggenggam tanganku saat kita berjalan berdua.

Sunday, March 01, 2015

6 : Jaket biru dan Punggungmu

Kepada lelaki berjaket biru, lelaki yang pernah duduk di barisan depanku. Lelaki yang hanya bisa kupandang punggungnya sambil terus tersenyum tak henti-hentinya.
Apa kabar kamu? Ku harap kamu selalu baik, sama seperti saat pertama dan terakhir kali kita bertemu. Ini adalah kali kedua aku menulis surat untukmu, meskipun aku tidak yakin surat ini akan sampai ke kamu, dan kamu baca. Aku masih ingat kali pertama aku mengirimimu surat, mungkin tahun lalu. Surat cinta yang kukirim melalui program surat kaleng yang juga digalakan oleh Poscinta, yang ku yakin surat pertama itu sampai padamu. Entah kamu baca atau tidak, tapi aku bersyukur sudah mengirimkan sekaleng surat cinta tak bernama itu. Kali ini pun aku masih ingin mengirimimu surat yang sama, surat yang berisi kesan pertemuan pertama kita kala itu.

Thursday, January 22, 2015

22

Kemarin, saya baru saja memasuki umur yang bertambah. 22 tahun lebih tepatnya.
Ibu dan Bapak saya tidak memberikan ucapan secara langsung seperti tahun-tahun sebelumnya. Lucunya, Ibu saya mengirimkan pesan singkat yang berisi ucapan dan doa untuk umur saya yang bertambah dan bukan mengucapkannya langsung. Bapak saya? Bapak saya bukan tipe orang yang bisa mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata, Beliau tidak memberikan saya ucapan tapi jauh dari itu saya tahu bahwa Beliau pasti mendoakan yang terbaik bagi saya.

Tuesday, December 30, 2014

Bagian Satu

Saya hanya tahu kalau saya sedang bahagia.
Boleh kamu anggap saya bodoh, yang pasti saya hanya akan menikmati apa yang sedang saya jalani sekarang.
Mendapati kamu hadir di hidup saya membuat saya tidak berhenti mengucap syukur. Mungkin ini adalah jawaban atas doa-doa yang hampir setiap malam saya panjatkan kepada Tuhan.
Cukup lama saya menunggu Tuhan memeluk mimpi-mimpi ini, dan mungkin saat ini adalah saat yang tepat menurut NYA.
Kamu hadir tanpa pernah saya bayangkan dan rencanakan sedikitpun. Kamu hadir ketika saya mulai meragukan kalau saya juga berhak berbahagia bersama seorang yang lain.
Saya tidak tahu akan ke arah mana nantinya, apakah ini akan berlanjut atau tidak, akankah ini berujung bahagia atau tidak, akankah kita bersama pada akhirnya, atau justru saling menemukan orang lain untuk mengisi hidup kita.
Saya hanya tahu kalau saya amat menikmati hal ini, perhatian kecil yang kamu berikan, isengan menyebalkan yang pada akhirnya tetap membuat saya tertawa, dan hal kecil lain yang tanpa kamu sadari membuat saya tertawa dan tersenyum sepanjang hari.
Jika pada akhirnya nanti kita tidak bersama, saya tidak akan menyalahkan kamu dengan menyebut kamu pemberi harapan palsu. Saya telah memutuskan untuk jatuh kepadamu, dan jika akhirnya saya juga patah hati karenamu, maka biarkan ini menjadi urusan saya.
Pidi Baiq pernah menulis seperti ini 'Aku mencintaimu, biarlah ini menjadi urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu' dan begitupun saya kepada kamu sekarang.

***

Monday, December 08, 2014

Payung Teduh Pertama

Haloooo, ketemu lagi :D

Pukul 23.30 saya baru sampai rumah dari menonton band kesayangan yang sungguh meneduhkan hati dan telinga, iya siapa lagi kalau bukan Payung Teduh :)
Sedikit cerita ya, kemarin ada gigs yang mengundang Payung Teduh sebagai bintang utamanya. Lokasi konser yang diberi judul "Salatiga di ujung senja" ini tentu saja di Salatiga, tepatnya di Gedung Tenis Indoor Stadion Kridanggo Salatiga. Sebagai penikmat musik band ini yang belum pernah nonton sekalipun live performnya, saya merasa kali ini saya nggak boleh melewatkan kesempatan ini. Jadi, sekitar dua minggu yang lalu, saya sudah woro-woro ke teman-teman saya yang juga penikmat musik mereka untuk nonton bersama, namun karena ada satu dan lain hal alhasil tadi saya cuma bisa nonton berdua bersama sepupu saya. YA! SAYA BERHASIL NONTON PAYUNG TEDUH UNTUK PERTAMA KALINYA :')))))))))))

Saya mau cerita tentang kesan saya selama nonton gigs tadi, namun sebelumnya mau cerita dulu nih tentang perjuangan saya demi nonton band satu ini. Haha gaya abis.
Domisili saya Klaten, nah Klaten itu bisa dibilang nggak jauh-jauh amat sebenernya dari Salatiga, tapi ya lumayan juga kalau naik motor. Sebenarnya hampir saja saya gagal nonton karena cuaca siang hari yang mendung, dan membuat sepupu saya agak ragu untuk nonton, tapi akhirnya kami tetap berangkat, karena paksaan saya tentunya :p Alhamdulillah...

Wednesday, August 06, 2014

Fiksi ke dunia nyata yang maya

Seperti biasanya, sebelum nulis harus ada behind the scene alasan nulisnya dulu dong, tsailah. Baiklah tulisan kali ini dipicu oleh sebuah beberapa tweet yang muncul di timeline saya. Berikut saya sertakan capture hasil stalking saya ke akun mbak ini hahaha.


Yup benar sekali, ini adalah akun twitter milik Alexandra Rhea Wicaksono. Bagi kalian yang belum tahu siapa Alexandra ini, nanti akan saya ceritakan siapa dia sebenarnya dan kenapa saya amat tergila-gila sama Ibu yang satu ini.
Saya 'kenal' Tante Alex ini (Dulu mbak ini kesal sekali tiap ada yang mention dan panggil dia tante) berkat keisengan saya baca Divortiare karya mbak Ika Natassa. Jadi ceritanya saat saya jalan-jalan ke toko buku, saya lihat bukunya mbak Ika yang itu, lalu iseng baca sinopsis pendeknya di cover belakang, eh ternyata covernya lucu juga, yaudah beli lalu baca. Udah selesai baca si Divortiare itu, saya jadi jatuh cinta lalu pengen memborong buku-buku lainnya mbak Ika seperti AVYW (A Very Yuppy Wedding), Twivortiare (Seri lanjutan dari Divortiare) dan Antologi Rasa.
Kecintaan saya kepada Tante Alex ini membawa saya mencari tahu apakah cerita-cerita di twivortiare ini benar adanya. Sedikit cerita ya, twivortiare ini adalah buku yang isinya kumpulan tweet-tweet Tante Alex tentang hidupnya. Tentang Pekerjaan, Keluarga dan segala macam hal yang terjadi di hidupnya. Berangkat dari rasa penasaran itu akhirnya saya berhasil menemukan akun si Tante Alex ini. Saya sebenarnya agak terkejut juga karena tokoh fiksi yang ada dicerita diwujudkan di dunia nyata dalam bentuk akun di dunia maya. Ini lumayan membuat saya kaget, aneh dan makin penasaran.
Ya coba kamu bayangkan, tokoh fiksi dicerita, lalu tiba-tiba kamu menemukan akun twitternya, akunnya bisa diajak ngobrol dan sering banget jawabin mention-mention dari penggemarnya. Is it very cool?
Terlebih lagi si Tante Alex ini ngetweetnya layaknya seorang ibu-ibu modern masa kini, punya suami yang ganteng lempeng tapi gemesin dan punya anak yang lucunya subhanallah gemesinnya minta banget diciwel sama dicium, dan tentu saja karir yang oke. Jadi kalau kalian menengok akunnya si Tante, kalian akan sering mendapati postingan foto bayi laki-laki yang bulu matanya lentik dan lebat, pipi gembul dan bibir mungil yang pokoknya kalau sekali lihat jadi jatuh cinta. Iya, saya ini fans berat 'anaknya' tante Alex.
Nah dari cerita nggak beraturan yang saya tulis di atas, ada beberapa alasan kenapa saya amat menggilai Alexandra ini dan sering menjadikan akunnya sebagai penghibur ketika saya suntuk. Ketika saya sedang nggak ada kerjaan, atau malas, atau suntuk atau bahkan sedang kesal saya suka buka twitter dan stalking beberapa akun yang menurut saya bisa membuat saya tertawa, nah salah satunya milik Alexandra ini. Kenapa saya betah dan suka stalking dia? Karena cerita-cerita kecil tentang keluarganya itu bagi saya lucu, manis dan nyata aja gitu. Saya sering sekali membayangkan kalau tokoh-tokoh itu nyata di sekitar kita dan sering juga berandai-andai bahwa saya beneran bisa ketemu dan sekedar ngobrol dengan Alexandra seorang banker, mommy dan istri yang hebat untuk anak dan suaminya. 
Banyak hal yang membuat saya ngefans sama akun ini, tapi yang paling utama karena takjub tokoh fiksi bisa dibuat bentuk nyata dan bisa berinteraksi dengan kita.

Udah gitu aja ya ceritanya, kalau kalian ikut penasaran sama Alexandra ini mending baca dulu Divortiare dan Twivortiare ini sebelum follow akun Alexandra di twitter. Akun ini diprivat, jadi kalau mau follow harus diproses dulu sama si empunya akun. Nah untuk bisa diproses itu ada tata caranya gitu, makanya harus baca dulu biar ngerti cerita hidupnya :p

Smg, Aug '14

Saturday, September 14, 2013

Wanita berjilbab merah dan lelaki berompi orange

"Mas, aku bisa jelaskan apa yang terjadi" Kata wanita berjilbab merah kepada lelaki berompi orange.
"Sudah, aku tidak butuh penjelasanmu. Aku sudah melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri"
"Tapi itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Dengarkan penjelasanku dulu"
"Aku tidak mau dengar, kamu telah menyakiti hatiku" Lalu laki-laki berompi orange itu pergi meninggalkan wanita berjilbab merah di jalan raya, seorang diri.
***
Bukan, adegan sesungguhnya yang terjadi bukan seperti skrip yang saya tulis di atas. Itu semua cuma rekaan saya saja :D
Wanita berjilbab merah tidak sedang merayu ataupun menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan lelaki berompi orange. Mereka sama sekali tidak ada hubungan yang khusus, bahkan saling kenal dan tahu nama saja tidak. Sang lelaki berompi orange juga bukan sedang tidak mengacuhkan penjelasan si wanita tentang hubungan mereka selanjutnya, lagi-lagi saya katakan, mereka tidak saling kenal.
Kejadian sesungguhnya(yang mungkin tidak sesungguhnya terjadi juga) adalah teman saya (wanita berjilbab merah) sedang meminta keterangan tentang proses pengerjaan jalan raya di suatu kota. Kami (saya dan beberapa teman, termasuk wanita berjilbab merah) mendapat tugas untuk membuat presentasi mengenai iklim kerja di suatu tempat kerja, dan akhirnya kami memilih jalan raya sebagai lokasi pengamatan. Yang kami lakukan di sana adalah mengamati kinerja para pekerja yang sedang menggarap perbaikan jalan raya, mewawancarai mereka tentang beban pekerjaan yang diterima, dan merasakan bagaimana iklim kerja yang ada di lokasi tersebut. Sang wanita berjilbab merah mungkin sedang menanyakan berapa jam kerja si mas berompi orange ini, apakah dia pernah megalami cedera-cedera saat bekerja dan lain sebagainya mengenai pekerjaan mereka. Si mas berompi orange juga melayani pertanyaan wanita berjilbab merah dengan baik, menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan dengan santai.
Satu hal yang menggelitik otak saya ketika melihat foto itu adalah adegan di atas yang sudah saya tulis. Adegan itulah yang pertama kali muncul di otak saya ketika melihat foto itu. Adegan di mana sepasang kekasih sedang terlibat konflik percintaan. Di mana yang menjadi pihak bersalah adalah si wanita, dan si lelaki merasa sangat dikecewakan oleh sang wanita. Yang pada akhirnya adegan itu ditutup dengan kemarahan si lelaki yang memuncak dan meninggalkan sang wanita menangis di jalan raya, seorang diri. Daaan eits, adegan belum berhenti di situ. Saat wanita menangis tersedu-sedu di jalan raya, pekerja-pekerja jalan lainnya-yang notabene adalah kawan si lelaki-datang menghampiri si wanita, menggodanya hingga sang wanita semakin menangis histeris dan sekonyong-konyong laki-laki itu kembali lagi dan mengusir orang-orang yang mengganggu kekasihnya. Dan pertengkaran usai, mereka saling berpelukan dan melupakan kesalahpahaman di antara mereka.

Itu yang ada di otak saya ketika melihat gambar itu. Dari sana saya belajar bahwa imajinasi setiap orang itu berbeda atas apa yang dilihatnya. Tidak semua orang akan berpikiran sama dengan saya ketika melihat foto itu, adegan-adegan lain mungkin akan tercipta dari kacamata-kacamata lainnya.
Sama seperi hidup. Setiap orang berbeda dalam memandang hidup yang mereka jalani. Setiap orang mungkin akan berbeda dalam hal pemaknaan hidup atas apa yang sudah dijalani. Mungkin kejadian yang dialami sama oleh beberapa orang, namun dalam hal pemaknaan dan penerimaannya, tidak semuanya sama. Ada yang bisa tegar dan kembali bangkit ketika patah hati, ada pula yang justru terpuruk dan menangisi keadaan ketika dia dihadapkan pada kejadian yang sama.
Jadi, bagaimana pandangan kita tentang hidup, ya itu tergantung dari sisi mana kita melihat potongan-potongan kejadian itu terjadi, apakah positif, negatif, absurd, atau apapun, itu semua terserah kita.

Friday, September 13, 2013

Senja dan atap gedung

Mereka bukan sepasang kekasih, mereka bukan sepasang suami-istri, mereka tidak ada hubungan dalam hal percintaan. Mereka hanya sebatas teman. Teman yang siluetnya tidak sengaja terekam di lensa kamera handphone buluk saya.
Saya memotretnya kala senja di suatu hari yang tidak terlalu mendung setelah kami menonton pertandingan sepak bola yang diadakan kampus kami. Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat itu, saya juga tidak tahu. Sang perempuan, kawan baik saya di kampus. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan bersama dan menggosip hal-hal tidak penting. Sang laki-laki, seorang kakak senior yang berbeda jurusan dengan kami, tapi sering sekali menghabiskan waktu sorenya bersama kami. Kadang hanya sekedar mengobrol sambil menonton basket, menonton sepak bola ataupun futsal. Aneh memang kegiatan yang kami lakukan ini berkisar dari menonton pertandingan-pertandingan olahraga itu.
Dua orang difoto adalah kawan, tidak terlalu akrab pun tidak sebatas saling tahu. Mereka bukan sepasang kekasih, mereka bukan sepasang suami-istri, mereka tidak ada hubungan dalam hal percintaan, mereka hanya sebatas teman yang menghabiskan senja secara bersama di atap gedung olahraga kampus kami, dan itu yang membuatnya terasa istimewa.
Karena bukankah tidak harus mempunyai hubungan yang spesial untuk bisa menikmati senja secara istimewa? Cukup dengan seorang kawan, tidak perlu seperti sahabat dan tidak perlu banyak kata untuk menikmatinya secara bersama.

Thursday, September 12, 2013

Panggil aku Jenderal


Namaku, ya panggil saja aku Jenderal karena kelak aku akan jadi Jenderal pemberani yang menegakkan keadilan. Pagi ini, sama seperti pagi yang lainnya aku bangun setelah Ibuku yang kadang sangat bawel itu menciprat-cipratkan air di mukaku. Seusai mandi, aku sarapan bersama Ibu, Bapak dan kakak perempuanku di ruang makan sederhana kami. Sarapanku? tentu saja makanan enak yang selalu dimasak oleh Ibu. Pagi ini menu sarapan keluarga kami adalah sayur asam, tempe goreng dan ikan teri yang rasanya sangat asin seperti ketekku ketika aku selesai bermain bola dengan temanku. Ibu tersenyum dan mengelus kepalaku saat melihatku makan dengan lahapnya.
"Makan yang banyak, Nak. Biar pinter, biar bisa jadi Jenderal" Itu kata Ibu setiap kali aku makan dengan lahapnya. Aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa Ibu selalu mengatakan agar aku jadi Jenderal, namun sejak saat itu aku bercita-cita menjadi Jenderal.
Pagi ini aku ditugasi Ibu guru untuk memimpin barisan teman-teman sebelum masuk kelas. Pukul 07.00 pagi lonceng Sekolah dibunyikan oleh Bapak guru, dan aku segera bersiap mengambil poisisi sebagai pemimpin barisan. Teman-temanku malah asyik berlari-larian di halaman sekolah, dan tak memperdulikanku yang sudah siap di depan kelas.
"Tania, Putri, Aam, Panjul ayo semua berbaris. Kalian ini seperti anak kecil yang nakal saja, ini kan sudah bel. Aku mau menyiapkan barisan nih" Kataku pada mereka yang masih berlari-larian itu. Mereka segera menghampiri dan mengikuti barisan yang sudah mulai rapi sambil menggerutu. Aku mulai menyiapkan barisan dan teman-teman mengikuti aba-aba yang ku komandoi, lalu mereka masuk ke kelas dengan rapi dan tidak banyak bicara.
"Bagus sekali, Nak. Kamu menyiapkan teman-temanmu dengan baik. Pantas kalau kamu dipanggil Jenderal" Ibu guru tersenyum padaku, mengacungkan kedua jempolnya tanda bahwa Beliau bangga padaku. 
Panggil saja aku Jenderal, karena esok aku akan jadi jenderal yang menumpas kejahatan. Panggil aku Jenderal karena aku akan menjadi pemimpin yang adil dan jujur. Panggil aku jenderal, karena sekarang aku memang seorang jenderal cilik yang pemberani.

Monday, February 18, 2013

Lana-Ranu

Kamu berjalan tertunduk lesu, tidak ada sorot mata membara yang kulihat dari kedua bola matamu. Kamu tidak seperti biasanya, bahkan cenderung murung. Tak kau perdulikan orang-orang yang sedang bersorak gembira karena tim kesayangannya memenangkan pertandingan bola itu. Kamu hanya terus berjalan, menuju taman tempat biasanya kau memandang senja. Sama seperti biasanya kamu duduk di bangku dekat air mancur kecil yang terdapat di tengah taman komplek perumahan, bangku favoritmu. Kamu hanya diam melihat langit sore, lalu tersenyum sekilas. Senyum yang selalu ku tunggu, senyum yang selalu ku rindukan.
Di bagian taman yang lain, ku lihat sebuah keluarga yang nampak amat bahagia. Sang Ayah dan anak lelakinya berlarian, saling berkejaran dengan penuh tawa. Sang Ibu menyiapkan makanan sore dari sekeranjang bekal sederhana yang dibawa, sungguh pemandangan yang sangat indah, sama seperti ketika aku memandang wajahmu.
Entah sejak kapan aku mulai suka membuntutimu setiap sore. Aku selalu bersembunyi di semak dekat portal  masuk kompleks, menunggumu lewat jalanan ini dan membuntutimu sampai ke taman. Hal ini kulakukan demi melihat wajah dan senyum yang jarang kau tunjukkan itu. Ada bagian dari dirimu-yang aku sendiri tidak tahu-yang membuatku tertarik padamu. Mungkin aku menyukaimu, atau bahkan mungkin lebih dari itu, karena aku selalu bahagia ketika aku bisa melihatmu, ya hanya melihatmu.
Kamu tiba-tiba berdiri dari bangku favoritmu itu. Ku lirik jam yang ada di pergelangan tangan kiriku, pukul 17:02. Bukankah ini belum waktunya kamu pergi? Tanyaku pada diri sendiri. Kamu berjalan menuju pohon tempatku duduk untuk mengintipmu, seketika ada rasa panik dalam diriku. Aku segera berbalik dan menundukkan kepalaku, tidak lagi berani mengintipmu dari pohon. Aku diam, namun jantungku berdegup sangat kencang, ada perasaan was-was karena takut kamu tahu kalau aku suka mengikutimu. Ada tapak-tapak kaki yang ku dengar mulai mendekat, adrenalinku semakin meningkat bahkan rasanya aku hampir kencing dicelana. Kamu sudah berdiri di depanku, dan aku tak berani memandang wajahmu. Lama sekali kamu hanya diam dan tak berniat sedikitpun untuk pergi dari tempat berdirimu itu. Aku mulai memberanikan diri menatapmu dan berdiri untuk mensejajarkan pandangan. Raut mukamu datar, aku tidak bisa membaca dan memperkirakan apa reaksimu selanjutnya.
"Ma..maa..ma..maafkan aku" Hanya kata itu yang terlontar dari bibirku. Kamu tidak bergeming, masih saja diam dan tidak berekasi atas permintaan maafku. Kamu mengulurkan tangan, tersenyum dengan sangat manis. " Namaku Lana". Suaramu terdengar sangat merdu ketika mengucapkan namamu, ya seperti bidadari yang baru saja turun dari langit. "Namaku Ranu" Ku jabat uluran tanganmu itu, dan kita saling tersenyum satu sama lain.

Monday, January 21, 2013

#15~Ciuman pertemuan


"Lanang"
Lanang menoleh mencari sumber suara itu. Dia menemukan sosok wanita semampai tengah memandanginya.
"Aurel"
Lanang tercekat saat mengucap nama itu, Dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Wanita itu menghambur memeluk tubuh Lanang dan menangis. Tidak ada respon yang ditunjukkan Lanang, dia tidak bergeming sedikitpun.

" Aku kangen kamu"

"Kapan Kamu kembali ke Jakarta?"
Hanya itu yang diucapkan Lanang atas pertemuan ini. Wanita itu menjawab pertanyaan Lanang dengan pelukan yang semakin erat.

"Lepaskan Aurel, Aku tidak bisa bernafas"

"Aku kangen kamu. Nggak ada sehari pun aku nggak mikirin kamu di sana"

"Untuk apa kamu kembali kesini?"

"Aku kangen kamu. Aku masih sayang kamu". Aurel tiba-tiba memajukan badannya, mencoba meraih bibir Lanang dan menciumnya. Lanang tak bisa mengelak dan mereka sempurna berciuman.

Di sudut kanan pintu keluar kafe, seorang wanita tengah mengamati lekat kejadian itu. Dia tetap diam, namun tetesan air mulai muncul dari pelupuk matanya. 
PRANG
Suara piring terjatuh menghentikan ciuman Aurel yang bertubi-tubi itu. Lanang segera menjauhkan badannya dari Aurel untuk melindungi dirinya dari kelakuan Aurel yang tidak pernah berubah.

"Ma-ma-maaf mbak, saya nggak sengaja. Saya akan ganti rugi untuk piring-piring ini" Wanita yang tak sengaja menabrak pramusaji kafe itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya. Matanya masih basah dan lembab karena tangisannya yang tanpa suara. Dia lalu buru-buru pergi meninggalkan kafe itu dengan hati terluka.

"Laksmi" Lanang terlambat menyadari siapa wanita yang membuat kegaduhan itu.

"Jangan Jangan" bibirnya tercekat. Dia pergi mengejar Laksmi yang bahkan bayangannya pun sudah tidak terlihat dari matanya.

Thursday, January 17, 2013

14~Perjalanan dan hujan


Hujan masih setia mengguyur jalanan yang kami lalui. Kami tidak banyak berbicara, hanya menikmati perjalanan ini dalam diam dan hujan. Sesekali aku mencuri pandang megamati lekat-lekat wajahnya yang basah tersiram air hujan. Dia memang tampan, dan aku merasa tersihir oleh paduan wajahnya.

"Kamu memang benar-benar tampan". Dia menoleh ke arahku yang secara tidak sadar telah mengatakan bahwa ia tampan. Dia tersenyum,sangat menawan. Senyum yang bisa meluluhlantahkan pertahananku. Senyum yang membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Kamu juga cantik, selalu cantik. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, masih sama".

"Dulu?". Dia lagi-lagi tertawa mendengar pertanyaanku. Kupikir tidak ada yang lucu dengan pertanyaanku, justru aku merasa heran dengannya yang menganggap bahwa kami sudah sejak lama saling mengenal.

"Aku lupa kamu tidak pernah mengenalku. Aku mengenalmu sejak 2 tahun belakangan ini. Lewat jendela tempatku bekerja, aku bisa melihatmu dari kejauhan". Kami saling berhadapan, saling mengawasi lekat-lekat.

Ada perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan ketika memandanginya. Dia menggenggam tanganku, kehangatan genggamannya mengaliri tubuhku yang kedinginan karena hujan. Ada rasa aman dan nyaman ketika genggaman itu semakin erat.
Kami akhirnya sampai di depan rumahku. Jemarinya masih menggenggam jemariku, bahkan genggaman itu terasa lebih erat lagi, seakan enggan berpisah.

"Ayahku pasti marah melihat putri semata wayangnya ini basah kuyup. Aku harus segera masuk" Kataku padanya.
Dia sepertinya mengerti apa maksudku dan mulai melepaskan genggaman itu. Sebuah kecupan kecil hinggap di dahiku, tidak lama namun aku merasa amat bahagia.

"Sampai jumpa, aku pamit dulu. Sampaikan maafku untuk ayahmu karena telah mengajak putri semata wayangnya kehujanan". Dia lalu pergi, meninggalkanku yang sedang tersenyum lebar.

Tuesday, January 15, 2013

#HariKe11 Namanya Lanang

Namanya Lanang. Aku bertemu dengan Lanang ketika menunggu bus di halte dekat tempat kerjaku. Sore itu hujan, deras sekali. Kebetulan aku lupa membawa payung kecil yang biasa aku bawa kemana-mana, maka jadilah aku basah kuyup saat berlari-lari kecil menuju halte tempat biasa aku menunggu. Seseorang tiba-tiba mengulurkan handuk kecil ke arahku ketika aku sedang mengibas-ibaskan bajuku yang basah. Dia tersenyum, manis sekali ketika aku menoleh ke arahnya.
"Pakailah handukku. Masih bersih karena belum sempat kupakai" Dia masih mengulurkan handuk biru bermotif itu ke arahku. Ragu-ragu ku ambil handuk biru itu dan kucoba tersenyum semanis mungkin padanya. Dia tertawa, renyah sekali.
"Tidak usah memaksakan senyum padaku. Senyummu jelek sekali". Lagi-lagi dia tertawa, lebih keras dan terlihat sangat menikmati ketika mengejekku. Aku entah terkena angin apa, justru tidak marah ketika dia mengatakan senyumku jelek, padahal kami tidak saling mengenal satu sama lain.
"Terima kasih handuknya, dan terima kasih juga telah mengejekku" Ku balas tawanya yang renyah itu dengan senyuman yang lebih tulus.
"Namaku Lanang Bagas Adikara"
"Namaku Laksmi. Hanya Laksmi". Kami saling mengulurkan tangan untuk menjabat satu sama lain kemudian tertawa bersama, entah menertawakan apa.
Kami diam satu sama lain, tidak melanjutkan perkenalan itu dengan obrolan ringan. Bagiku sendiri, perkenalan singkat itu cukup membuatku merasa mengenalnya. Bus yang ku tunggu akhirnya datang, Aku segera naik kedalam bus. Kulihat dia tidak mengikutiku dari belakang, jadi kupikir kami memang berbeda tujuan. Aku yang sudah duduk manis ditepi jendela,mendadak mendekati pintu masuk bus dan melenggang keluar dengan santainya. Kuputuskan tidak naik bus itu. Tidak kuhiraukan teriakan dan umpatan dan kenek bus yang memanggil-manggilku untuk naik kembali.
Aku menghampiri Lanang yang masih berdiri di halte itu. Dia memandangiku dengan tatapan penuh pertanyaan. Aku sendiri pun juga tidak tahu mengapa aku melakukan ini semua. Aku hanya tahu bahwa di dalam diriku, ada suara yang menyuruhku untuk tetap bersama Lanang saat itu.
" Maukah kau mengantarku pulang?". Lanang tetap diam mendengar ucapanku. Dia tidak berkata apa-apa hampir selama 10 detik. Dia lalu mengangguk, menyetujui usulku.
Kami lalu berjalan kaki bersama, menuju rumahku. Rumah yang jaraknya hampir 4 km dari halte itu.