Thursday, September 12, 2013

Panggil aku Jenderal


Namaku, ya panggil saja aku Jenderal karena kelak aku akan jadi Jenderal pemberani yang menegakkan keadilan. Pagi ini, sama seperti pagi yang lainnya aku bangun setelah Ibuku yang kadang sangat bawel itu menciprat-cipratkan air di mukaku. Seusai mandi, aku sarapan bersama Ibu, Bapak dan kakak perempuanku di ruang makan sederhana kami. Sarapanku? tentu saja makanan enak yang selalu dimasak oleh Ibu. Pagi ini menu sarapan keluarga kami adalah sayur asam, tempe goreng dan ikan teri yang rasanya sangat asin seperti ketekku ketika aku selesai bermain bola dengan temanku. Ibu tersenyum dan mengelus kepalaku saat melihatku makan dengan lahapnya.
"Makan yang banyak, Nak. Biar pinter, biar bisa jadi Jenderal" Itu kata Ibu setiap kali aku makan dengan lahapnya. Aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa Ibu selalu mengatakan agar aku jadi Jenderal, namun sejak saat itu aku bercita-cita menjadi Jenderal.
Pagi ini aku ditugasi Ibu guru untuk memimpin barisan teman-teman sebelum masuk kelas. Pukul 07.00 pagi lonceng Sekolah dibunyikan oleh Bapak guru, dan aku segera bersiap mengambil poisisi sebagai pemimpin barisan. Teman-temanku malah asyik berlari-larian di halaman sekolah, dan tak memperdulikanku yang sudah siap di depan kelas.
"Tania, Putri, Aam, Panjul ayo semua berbaris. Kalian ini seperti anak kecil yang nakal saja, ini kan sudah bel. Aku mau menyiapkan barisan nih" Kataku pada mereka yang masih berlari-larian itu. Mereka segera menghampiri dan mengikuti barisan yang sudah mulai rapi sambil menggerutu. Aku mulai menyiapkan barisan dan teman-teman mengikuti aba-aba yang ku komandoi, lalu mereka masuk ke kelas dengan rapi dan tidak banyak bicara.
"Bagus sekali, Nak. Kamu menyiapkan teman-temanmu dengan baik. Pantas kalau kamu dipanggil Jenderal" Ibu guru tersenyum padaku, mengacungkan kedua jempolnya tanda bahwa Beliau bangga padaku. 
Panggil saja aku Jenderal, karena esok aku akan jadi jenderal yang menumpas kejahatan. Panggil aku Jenderal karena aku akan menjadi pemimpin yang adil dan jujur. Panggil aku jenderal, karena sekarang aku memang seorang jenderal cilik yang pemberani.

Wednesday, September 11, 2013

Sepak botol



"Bro, main bola yok kita"

"Mana bolanya Bro? Kagak ada bola di sini"

"Plis deh Bro, thinking smart, itu ada botol air mineral"

"Maksud lu kita main pake itu, Bro?"

"Kagak, kita main pake bekel. Yaiyalah pake itu"

Lalu kami main bola botol bersama. Bukan permainan putar botol seperti yang sering dilakukan orang dalam permainan truth or dare, tapi botol untuk di tendang-tendang.
Pelataran gedung kampus yang kosong kami pakai sebagai lapangan sepak botol, dan pemainnya pun tak perlu banyak orang, cukup kami berempat.

Permainan berlangsung seru, kami saling gocek satu sama lain, saling beradu dan akhirnya aku berhasil memasukkan botol ke gawang semu yang kami buat. Kami bersorak kegirangan, begitu pula para perempuan yang menonton kami. Mereka bersorak-sorak mengelu-elukanku. Semangatku semakin membara mendengar para perempuan yang menyoraki kami, aku pun menambah kekuatan pada tendanganku yang justru menyebabkanku jatuh dan terpeleset.
BRUKKK.
Badanku yang lumayan besar rubuh ke lantai, mengenai botol yang masih ada sedikit sisa airnya.
Bajuku basah, rembes terkena air. Kawan-kawanku hanya melihat dan tertawa terbahak-bahak. Aku pun ikut menertawakan keadaan dan kelakukan kekanakan kami.
Sore itu indah, meski badanku masih sakit karena jatuh tapi aku bahagia menghabiskan sore dengan kawan-kawanku. Aku pulang kos dengan senyum lebar, senyum yang sudah beberapa tahun ini tak nampak di wajah tegangku.

Panti Werda

Jadi, setahunan yang lalu saya pernah ikut acara seperti bakti sosial gitu, kebetulan bakti sosialnya di salah satu Panti Werda yang dikelola oleh Pemerintah Kota Semarang. Nah, di panti tersebut, saya ketemu banyak sekali nenek-nenek dan kakek-kakek (yaiyalah). Panti ini menampung para orang tua yang sudah nggak punya keluarga, jadi kebanyakan memang yang sebatang kara, tapi nggak jarang juga yang emang dititipin sama keluarganya di sini.
Waktu itu, saya sama teman-teman saya yang datang ke sana ngelakuin hal yang sejujurnya belum pernah saya lakuin. Di sana, saya belajar mandiin nenek-nenek yang udah susah jalan, mandiin nenek-nenek yang di kursi roda. Kenapa kerjaan saya mandiin semua ya? Iya karena pas saya datang, itu emang jam mandinya jadi ya mandiin. Kalau teman saya yang lain, ya beda-beda tugasnya tergantung mereka masuk kawasan rumah yang mana jadi tugasnya disesuaikan. Nah di sana itu ada beberapa blok rumah yang kawasannya beda-beda. Ada kawasan yang untuk para lansia yang memang sudah tidak bisa melakukan apa-apa, kawasan yang masih normal bisa jalan sendiri, makan sendiri gitu deh. Terus setiap blok rumah itu juga ada namanya sendiri-sendiri, cuman saya lupa nama rumahnya apa aja :D
Setelah mandiin itu, tugas kedua saya adalah nyuapin nenek-nenek, tapi pas mau saya suapin eh ternyata neneknya belum mau makan jadi yaudah deh sayanya balik ke aula panti. Di sana, kami udah nyiapin acara kecil-kecil yang intinya sih buat bikin nenek dan kakek di sana seneng. Jadilah waktu itu kami melakukan senam tertawa.
Instruktur senam tertawa : Tika- Mba Yuni


Nenek-neneknya pada semangat senam
 Memang sih, yang kami lakukan cuma sebatas ngajakin senam, ngajakin gerak ala kadarnya tapi tau nggak itu bikin mereka seneng lho. Saya bisa ngelihat mereka senyum bahagia di usia senja mereka. Karena mereka ini sebenernya kan cuma pengen diperhatiin, disayangin layaknya orangtua yang disayanagi anaknya. Jadi pas kami semua datang ke sana, bantu mandiin, nyuapi, ngajakin ngobrol, ngajakin ketawa-kwtiei ya jelas mereka seneng banget.
Oh iya, nenek-nenek di sini hebat-hebat lho, karena di panti juga diajarin buat kreasi kerajinan tangan jadinya ya mereka produktif meskipun udah tua gitu. Satu lagi yang saya salut, ya sama pengurus panti nya. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang ngurusin di situ itu ramah-ramah, selalu ngurusin nenek-nenek dan kakek-kakek ini dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. TOP banget kan ya.

Peserta senam tertawa. Lumayan banyak ya :))

 

Pulang dari sana, saya belajar banyak hal. Saya belajar bahwa nggak selamanya bahagia itu berkisar materi aja, tapi ada bentuk bahagia lain yang esensinya lebih dalam, lebih haqiqi yaitu cinta kasih. Orang di sekitar kita kadang cuma butuh yang namanya diperhatiin, diajak ngobrol bareng, dirawat pas sakit daripada terus-terusan dicekokin sama materi tapi hatinya kosong, nggak disirami sama kasih sayang. Saya belajar semangat yang nggak pernah pupus dari para kakek-nenek ini. Di usia senja mereka, mereka masih semangat menjalani hidup meskipun nggak ada keluarga yang menemani, tetap berkarya sesuai kemampuannya, tetap menjadi cahaya dan bahagia bagi orang lainnya. Saya bersyukur dipertemukan dengan mereka semua, dibolehkan kenalan dan tahu gimana ngurusin nenek-kakek yang sudah sepuh, dan saya bahagia :)

Monday, August 26, 2013

Yang (Mungkin) Harus Kamu Tahu

Kita tidak benar-benar saling mengenal, kita hanya sebatas saling tahu.
Tidak benar-benar saling memahami dan mengerti.

Kamu bilang, wanita itu susah dimengerti? Ya, Aku pikir ada benarnya apa yang kamu katakan, karena kadang kala aku sendiri tidak mengerti dengan diriku, pun dengan teman-teman wanita ku.

Kamu bilang, hati wanita susah ditebak. Jika sesekali kamu mencoba menebaknya dan salah, wanita akan marah. Kalaupun kamu menebak dengan benar, katamu wanita akan tetap mengatakan kamu itu salah. Kamu tahu lelucon atau apalah kau sebut itu apa yang mengatakan bahwa "Wanita selalu benar"?
Hey, untuk yang satu itu kamu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Kamu tahu, terkadang aku ingin kamu paham tentang perasaanku, tanpa aku harus mengatakannya secara gamblang kepadamu. Tidak adil memang, karena aku tahu kamu bukan cenayang yang bisa membaca hati dan pikiran orang lain, termasuk aku.
Tapi ketahuilah, sebenarnya aku hanya ingin kamu menunjukkan bahwa kamu berusaha untuk memahami yang sedang ku rasakan, meskipun pada akhirnya mungkin kamu akan tetap salah di mataku.

Ketahuilah, kalau aku sedang marah padamu, maka jangan hanya mendiamkanku. Aku tahu yang kamu lakukan itu untuk menghindarkan konflik yang berlebihan pada kita, tapi terkadang aku juga ingin kamu menenangkanku ketika aku marah padamu.
Ketahuilah, ketika aku bilang "Aku tidak apa-apa" ada sedikit bagian dari dalam diriku yang menginginkan kamu bertanya tentang apa yang terjadi padaku, keadaanku, apa aku baik saja ataukah apa ada yang sedang mengganggu pikiranku.
Ketahuilah, ketika aku sangat bawel dan ceriwis ini itu, hanya semata karena aku mencemaskanmu. Jadi maafkan aku kalau kebawelanku itu justru mengganggu hidupmu.
Ketahuilah, ketika aku mulai merajuk dan merengek hal sepele padamu, itu sebenarnya karena aku hanya ingin kamu memanjakan dan melindungiku.
Ketahuilah, jika aku sering menerormu dengan sms atau telepon yang terkadang tidak tahu waktu dan kondisi, itu semata karena aku hanya ingin tahu keadaanmu, dan memastikan bahwa kamu baik saja.
Ketahuilah itu semua. Aku tidak terlalu berharap kamu melakukan apa yang kutuliskan ini. Aku hanya ingin kamu tahu, dan mengerti karena mungkin itu akan mempermudah untukmu, untukku, kita.

Satu hal lagi yang aku ingin kamu tahu. Aku tidak tahu batas antara nyata dan maya yang kadang kamu ciptakan. Maksudku, aku tidak tahu apa yang kamu lakukan itu hanya bercanda atau serius padaku. Aku tidak tahu apa motif dibalik semua obrolan tidak penting kita itu. Hanya satu yang kutahu, aku menikmati itu semua.
Maka ketahuilah bahwa jangan sekalipun kamu menebar jaring kalau kamu sendiri tidak benar-benar ingin memanen ikan di jaring yang kau tebar itu.


Smg, 23 Agustus 2013.
Di suatu siang yang terik ketika tidak ada yang bisa dikerjakan di tempat praktek. (Repost dari note facebookku)

nb : Narasi pendek ini juga saya visualisasikan dengan suara. Kalau mau dengar bisa ke sini  ^^ xoxo

Wednesday, August 21, 2013

Fans!

Mau cerita lagi yah, tentang masa sekolah Saya. Lebih tepatnya masa di mana Saya mulai suka sama orang #Ciegitu. Oke Saya ini sebenarnya anak yang polos, nggak ngerti pacar-pacaran, alim gitu lah pokoknya. Tipikal anak lugu banget :p
Waktu SMP, Saya belum kenal tuh suka-sukaan, eh mungkin udah kenal ya, tapi ya cuma sebatas suka dan nggak berniat pacar-pacaran, ya maklum sih polos.
Waktu SD, Saya sering dicengin temen-temen cowok Saya-Teman akrab Saya kebanyakan cowok-sama kakak kelas gara-gara pernah nubruk si kakak satu itu. Nah, kata kakak kelas Saya yang lainnya, gara-gara tubrukan nggak sengaja itu, si kakak jadi naksir Saya dan sering godain Saya. Makanya gara-gara sering digodain kakak itu, temen-temen pada ikutan ceng-cengin Saya. Tapi ya dasar bocah lugu, polos baik hati, Saya nya lempeng aja tiap dicengin, anggap angin lalu :p
Naik ke SMP, saya mulai ngerti tuh rasanya suka sama orang. Saya sempat ngefans sama temen seangkatan.  Cowok idola Saya itu pendiam, terkesan dingin dan nggak friendly karena jarang banget dia senyum-atau saya aja yang nggak pernah lihat dia senyum?- ke orang lain, dan nggak ramah pun. Kebtulan juga, kelas kami itu berdekatan jadi Saya sering papasan selintas sama dia, dan sering ngintipin dia di kelasnya juga sih hahaha.
Cowok itu juga pinter dan bisa dibilang multi talenta,  makanya saya ngefans abis sama dia. Tapi dari semua kelebihan-kelebihan yang sudah saya sebut tadi, ada satu hal yang bikin saya sukaaaaaaaaaaaaaaaaak banget sama dia. His eagle eyes!
Matanya itu lho, yang bikin klepek-klepek. Cara dia natap orang itu tuh sebenernya agak sadis, karena tatapannya tajam, udah gitu ngawasinatau ngelirik orangnya nggak pake senyum lagi.HIH! Tapi justru itu yang bikin saya jadi suka banget sama dia. Hampir tiap hari lah rutinitas ngintip itu Saya lakukan, demi ngelihat prince charming Saya itu :"). Sahabat-sahabat Saya juga pada tau sih kalau saya ini fans dia garis keras, jadi mereka sering nemenin ngintip dia juga hehehe.
Tapi yang namanya hidup, kan nggak selalu ya terjadi sesuai keinginan Kita. Jadi sampai detik ini, saya tetep cuma bisa jadi fans dia, jadi penonton hidupnya. Ngelihat dia pacaran sama si A, si B atau siapapun wanita beruntung itu. Nah sekarang ini dia juga lagi pacaran sama orang yang saya kenal juga. Pacarnya cantik, keren, hebat, pinter setipe sama dia cuman pacarnya lebih friendly ke orang lain, jadi ya seimbang.
Jadi, pokoknya saya seneng sih ngefans sama itu orang, sampai sekarang pun kalau nggak sengaja ketemu atau lihat update-annya aja masih suka senyum-senyum sendiri :D

Itu sih pengalaman suka-sukaan yang pernah saya alamin. Agak silly, aneh, dan klise mungkin ya, tapi itu nyata dan benar adanya ^^

eh iyah, find me on twitter too ya >> @ajengrizkii